Upaya Mensejajarkan Pendidikan Diniyah (2)
Posted on | January 13, 2010 | No Comments
Kurikulum pendidikan madrasah diniyah akan disesuaikan dengan kurikulum nasional. Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia Nahdlatul Ulama atau Rabitah Ma’ahad Islamiyah (RMI) yang juga membawahi madrasah diniyah dari seluruh tingkatan, menjanjikan penyesuaian itu akan selesai pada pada 2009 mendatang.
Penyesuaian itu dilakukan sebagai upaya menyelaraskan pola pendidikan di madrasah diniyah dengan sistem pendidikan nasional. Sebab, selama ini, lulusan madrasah diniyah masih belum mendapat pengakuan dari pemerintah, terutama oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Read more
Upaya Mensejajarkan Pendidikan Madrasah
Posted on | January 13, 2010 | No Comments
Dirjen Pendidikan Islam, Prof Dr Mohammad Ali mengatakan bahwa pendidikan madrasah sudah mulai dapat disejajarkan dengan sekolah umum dengan berhasilnya pendidikan sekolah tersebut merebut kejuaraan sains tingkat nasional dan internasional.
Ia mengungkapkan disela-sela acara peringatan Hari Amal Bhakti Kementerian Agama ke 64 di Jakarta, Senin (4/1). Kementerian Agama memberikan penghargaan kepada siswa siswi berprestasi pendidikan Madrasah Ibtidayah , Madrasah Tsanawiyah serta Madrasah Aliyah.
Mereka dinilai telah berhasil menggaet medali dalam lomba sains tingkat nasional dan internasional. Baik dalam bidang sains, matematik dan teknologi (robot) oleh siswa madrasah tingkat Ibtidayah dan madrasah Aliyah tersebut, maka berarti pendidikan di madrasah bisa dinilai tidak kalah dengan sekolah umum
“Kami tidak membentuk pendidikan khusus bagi siswa berprestasi sebagaimana sekolah umum,”kata Mohammad Ali. Read more
Mengevaluasi Kembali Keimanan Kita
Posted on | January 13, 2010 | No Comments
Hendaklah kita tahu, bahwa semakin kuat iman seseorang dan semakin banyak mengerjakan amal shaleh, maka ia akan menjadi semakin takut kepada Allah. Sebaliknya, semakin lemah keimanannya, dan semakin sedikit perbuatan baiknya, maka ia akan semakin jauh dari Allah, dan ia akan semakin terpedaya dalam kehidupan ini. Maka Kawan, camkan itu, dan sampaikan juga hal itu pada orang lain…
Lebih jelasnya lagi, bahwa sesungguhnya seorang mukmin yang bener, adalah yg selalu melakukan kebaikan yg dibarengi dg rasa ikhlas ketika melakukannya. Setelah itu, dia memohon kepada Allah, agar berkenan menerima amalnya dan memberinya pahala kelak di Akherat… Disamping itu juga, ia harus senantiasa berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan kesalahan. Ia selalu menjauh dari segala bentuk kejahatan. Ia selalu dalam ketakutan, kalau-kalau kelak Allah akan menghukumnya karena kesalahan yang pernah dilakukannya.
Sebagai manusia biasa, memang kita tak akan bisa untuk tidak melakukan kesalahan sama sekali. Tapi muslim yg baik, adalah yg setelah melakukan kesalahan, ia segera bertaubat dan meminta ampun kepada Allah swt. Sebab kalau tidak begitu, berarti kita adalah muslim yang lalai. Dan kelalaian itu telah menempatkan kita benar-benar dalam marabahaya besar. Untuk itu kawans, mari kita terus berupaya semaksimal mungkin, untuk menjadi muslim dan mukmin yang baik. Sehingga kita terselamatkan dari adzab Allah, dan berganti dengan kenikmatan yang kita dapatkan dari-Nya.
Read more
Sekilas Liku Pondok Pesantren Babul Khairat Menuju Pesantren Terpadu (2)
Posted on | December 28, 2009 | 5 Comments
Pada tahun pertama SMP dan SMA Babul Khairat beroperasi, kami agak
kesulitan menyuruh para santri, untuk mengikuti pembelajaran di
jengang pendidikan formal ini. Ini khusus mereka yang memang datang ke
pondok hanya berniat untuk belajar diniyah saja. Beda dengan mereka
yang memang selama ini sudah sekolah formal di luar. Tentunya, mereka
sudah tidak kesulitan lagi beradaptasi dengan tambahan materi
pelajaran umum di kelas. Namun, pengasuh waktu itu, al-Habib Muhsin
Bin Umar Alattas, menegaskan bahwa sekarang kita tengah berada di
zaman, dimana latar belakang pendidikan formal juga sangat menentukan
seseorang untuk bisa berkompetisi di tengah masyarakat. Akhirnya
mereka bisa mengerti, dan dengan kesadaran, sebagian diantara mereka
bersedia ikut belajar di SMP dan SMA.
Waktu terus berjalan, setiap tahunnya pada penerimaan santri baru,
semakin sedikit saja santri mendaftar yang hanya berniat untuk belajar
diniyah saja. Puncaknya pada tahun 2009 ini, dari empat puluh-an
santri baru yang masuk, tercatat hanya tiga orang saja diantara mereka
yang tidak mengikuti pendidikan formal. Sehingga ketika itu, pengurus
akhirnya berkesimpulan bahwa untuk mencapai model pendidikan pesantren
dan formal yang ideal, diperlukan adanya integrasi diantara keduanya.
Sudah tidak zamannya lagi, ada dikotomi antara pendidikan agama dan
pendidikan umum. Karena pada hakekatnya, semua ilmu itu adalah ilmunya
Allah Ta’ala. Read more
Sekilas Liku Pondok Pesantren Babul Khairat Menuju Pesantren Terpadu (1)
Posted on | December 24, 2009 | 1 Comment
Pondok Pesantren Putri Babul Khairat sebagai salah satu dari sekian banyak lembaga pendidikan keagamaan di Kabupaten Malang, selama ini hanya mengfokuskan diri pada pembinaan akhlaq dan pengetahuan keagamaan saja.
Seiring dengan berjalannya waktu, banyak diantara anak didiknya (santri) yang juga ingin mempelajari ilmu – ilmu umum lain diluar bidang keagamaan. Maka pengasuh pun memberikan izin kepada mereka untuk belajar di sekolah – sekolah formal yang berdekatan dengan pesantren. Tapi setelah kebijakan ini berjalan beberapa tahun, pengasuh merasa khawatir akan perkembangan akhlaq dan budi pekerti mereka yang mulai terkontaminasi oleh kehidupan luar (pesantren). Padahal tujuan utama orang tua mereka menitipkan anaknya di pesantren, ialah untuk menjadikan mereka anak yang punya kepribadian tinggi (akhlaq karimah) sesuai dengan ajaran Islam. Read more
URGENSI MADRASAH DINIYAH
Posted on | December 23, 2009 | No Comments
Salah satu kekhasan pendidikan di Indonesia adalah adanya lembaga pendidikan pesantren. Secara historis, pesantren telah ada dalam waktu yang relatif lama. Sistem pendidikan pesantren telah ada semenjak para walisongo menyebarkan Islam di Indonesia. Seluruh walisongo memiliki pesantrennya sendiri-sendiri. Sunan Ampel dengan pesantren Ampelnya, Sunan Bonang dengan pesantren di Bonang Tuban, Sunan Drajat dengan pesantrennya di desa Drajat Lamongan, Sunan Giri dengan pesantren Giri di Gresik, dan sebagainya. Pesantren adalah institusi pertama di Nusantara yang mengembangkan pendidikan diniyah.
Sebagai lembaga pendidikan diniyah, maka pesantren menjadi tumpuan utama dalam proses peningkatan kualitas keislaman masyarakat. Dalam kata lain, maju atau mundurnya ilmu keagamaan waktu itu sangat tergantung kepada pesantren-pesantren. Makanya pesantren menjadi garda depan dalam proses islamisasi di Nusantara. Di masa awal proses islamisasi, maka pesantrenlah yang mencetak agen penyebar Islam di Nusantara. Santri-santri Sunan Giri menyebar sampai di Ternate, Lombok dan kepulauan sekitarnya. Makanya, nama Sunan Giri begitu populer di masyarakat kepulauan Halmahera sebagai penyebar Islam yang trans-kewilayahan. Read more
Kini, Madrasah Diniyah Sejajar Dengan Pendidikan Umum
Posted on | December 23, 2009 | No Comments
Keberadaan Madrasah Diniyah (Madin) dalam waktu dekat ini akan mulai disejajarkan dengan pendidikan pada umumnya. Dengan catatan madrasah diniyah tersebut harus mengajukan diri untuk menjadi pendidikan formal, seperti halnya pendidikan madrasah yang lain.
Kabid Pendidikan Keagamaan Pondok Pesantren (Pontren) Kanwil Depag Jatim, H Sudjak mengungkapkan, rancangan disejajarkannya madrasah diniyah tersebut sebenarnya sudah cukup lama dan sudah tertuang dalam PP No 55 tahun 2007. Namun, saat ini tinggal menunggu Peraturan Menteri Agama (PMA). Rencananya PMA ini akan dikeluarkan pada pertengahan oktober depan, katanya, Senin (15/9).
Dengan PMA dan dilanjutkan dengan pengajuan ijin operasional Madin, Sudjak mengatakan selain pendidikan agama, mata pelajaran (Mapel) di madin juga akan terdapat Mapel umum seperti IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan Matematika. Komposisinya sekitar 80% untuk pendidikan agama, dan 20% untuk pendidikan umum. Read more
Upaya Menjaga Eksistensi Madrasah Diniyah
Posted on | December 23, 2009 | No Comments
Sebanyak 1.050 guru Madrasah Diniyah (Madin) di Jawa Timur mendapat beasiswa menempuh pendidikan Strata Satu (S1) di 30 Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di Jatim. Mereka yang mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan S1 ini terdiri dari guru Madin lulusan SLTA dan Diploma II (D2).
Bagi guru Madin yang mengantongi ijazah SLTA akan disekolahkan hingga lulus S1. Sedangkan guru Madin yang berijazah D2 akan diberikan beasiswa untuk meneruskan pendidikannya hingga lulus S1. Pemberian beasiswa ini tidak lepas dari peran serta PTAI yang bekerja sama dengan Pemprov Jatim dalam meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan Madin di Jatim.
Biaya pendidikan sampai lulus akan ditanggung seluruhnya oleh Pemprov Jatim,? kata Pembantu Rektor III IAIN Sunan Ampel Surabaya, H Hamid Syarif yang menerima sebanyak 65 guru Madin untuk dimasukkan di jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam) Tarbiyah.
Sementara itu, Kabid Pendidikan Keagamaan (PeKa) Pondok Pesantren (Pontren) Kanwil Depag Jatim, Drs H Sudjak MAg membenarkan kalau keberadaan Madin saat ini memang perlu dipertahankan. Untuk itu, pihaknya akan terus mendorong pada madin untuk terus meningkatkan mutu SDM gurunya. Depag sendiri tahun ini telah memberikan bantuan kepada Madin, terangnya.
Bantuan ini berupa pemberian BOS reguler PPS ula (setingkat MI/SD) dan wusto (setingkat MTs/SPM), BOS Buku PPS Ula dan Wusto, Bantuan Ruang Kelas Baru (RKB), insentif guru PPS Ula dan Wusto, hingga bantuan lab bahasa pontren dan bantuan kitab kuning.
Pada bagian lain, Hamid Syarif mengungkapkan, peran serta pendidikan Madin ini memiliki peran yang sangat signifikan dalam membantu dalam mengurangi angka buta aksara di Jatim. Disamping itu, Hamid mengaku pasca diputuskannya Peraturan Pemerintah (PP) No 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan bisa menjadikan posisi Madin sama dengan pendidikan pada umumnya.
Sekarang tingal tunggu Peraturan Menteri Agama (PMA). Tapi, saat ini guru madin harus lulusan S1, ujar Sekjen Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) Pusat ini.
Dengan pembekalan pendidikan dan pemberian beasiswa ini, Hamid berharap mampu meningkatkan profesionalisme guru yang sekaligus dapat meningkatkan mutu pendidikan madin. Mengingat selama ini banyak guru madin banyak yang memiliki latarbelakang pendidikan, adalah non pendidikan.
Keberadaan madin ini wajib dipertahankan. Karena ini merupakan aset masyarakat muslim yang masih mampu mempertahankan keutuhan tradisi kependidikannya, katanya.

